
BAIC menampilkan kemajuan baterai sodium-ion yang diklaim bisa diisi sekitar 11 menit, bekerja lebih baik di suhu dingin, dan menawarkan jarak tempuh yang cukup relevan untuk penggunaan harian. Kombinasi ini membuat sodium-ion kembali menarik untuk dibicarakan sebagai jalur alternatif EV murah.
Selama ini, lithium tetap dominan karena performa dan kematangannya lebih tinggi. Namun sodium-ion punya keunggulan biaya bahan baku dan sensitivitas harga yang lebih rendah, dua hal yang sangat penting ketika pasar mulai menuntut EV semakin terjangkau.
Kalau performa charging cepat dan ketahanan suhu dinginnya benar-benar bisa diterjemahkan ke produk massal, sodium-ion punya peluang besar untuk mengisi ceruk yang tidak selalu membutuhkan energi setinggi baterai lithium premium.
Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa kompetisi baterai tidak lagi cuma soal siapa paling tinggi energinya. Sekarang pertanyaan yang makin penting adalah kimia mana yang paling cocok untuk skenario penggunaan tertentu.
Menurut pembacaan Kabarev, sodium-ion akan menarik justru karena tidak perlu menyalip lithium di semua hal. Cukup unggul di biaya, stabilitas, dan aplikasi tertentu, maka ia sudah bisa jadi alat perang baru di segmen EV terjangkau.
Semakin matang sodium-ion, semakin banyak pula jalur yang terbuka untuk membuat EV murah tanpa harus terus bergantung pada formulasi baterai yang sama.
Sumber: The Cool Down
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Belum ada artikel trending.