
Desakan agar produsen mobil listrik China memenuhi syarat TKDN memperlihatkan bahwa Indonesia mulai menggeser fokus dari sekadar pertumbuhan penjualan ke kualitas industrialisasi. Ini fase penting karena pasar EV domestik tak lagi dipandang hanya sebagai tujuan ekspor atau tempat membuang volume.
Arah kebijakan seperti ini cukup logis. Setelah penjualan EV tumbuh cepat, pemerintah dan parlemen tentu ingin efek ekonominya terasa lebih besar di dalam negeri melalui komponen lokal, tenaga kerja, dan basis produksi yang lebih mapan.
Di sisi lain, tantangannya tidak sederhana. Terlalu cepat menekan lokalisasi bisa mengganggu ritme investasi, tetapi terlalu longgar juga membuat Indonesia kehilangan kesempatan membangun fondasi industri jangka panjang.
Bagi merek China yang sedang tumbuh agresif di Indonesia, isu TKDN akan menjadi penentu apakah mereka benar-benar ingin bermain panjang di pasar ini atau hanya mengejar momentum penjualan awal.
Menurut pembacaan Kabarev, tekanan TKDN bukan sinyal anti-investasi, melainkan tanda bahwa Indonesia ingin naik kelas dari pasar konsumsi menjadi basis industri. Yang dibutuhkan sekarang adalah transisi aturan yang tegas tapi tetap realistis.
Semakin besar porsi EV di pasar domestik, semakin kuat pula tuntutan agar keuntungan industrinya tidak berhenti di level distribusi saja.
Sumber: GAIKINDO
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Belum ada artikel trending.