
Paris - International Energy Agency atau IEA memperingatkan bahwa pasar baterai global memang tumbuh sangat kuat, tetapi juga membawa risiko pasok yang ikut membesar. Dalam analisis terbarunya, IEA menekankan bahwa baterai kini bukan lagi sekadar komponen otomotif, melainkan bagian penting dari sektor listrik, pusat data, dan aplikasi strategis lain.
IEA mencatat pasar lithium-ion battery sudah melampaui USD 150 miliar pada 2025, sementara permintaan terus melebar. Namun di balik pertumbuhan itu, rantai pasok masih sangat terkonsentrasi secara geografis dan teknologis, terutama di China.
Peringatan ini relevan ketika konflik bersenjata, perang dagang, dan persaingan blok ekonomi makin sering mengganggu arus material dan komponen. Dalam situasi seperti itu, konsentrasi pasok bukan lagi sekadar isu efisiensi, tetapi langsung menjadi isu keamanan industri.
Bagi produsen EV di luar China, peringatan IEA terasa sangat jelas: ketergantungan pada satu ekosistem besar memang murah saat kondisi tenang, tetapi menjadi rapuh ketika geopolitik berubah cepat. Harga bisa ditekan hari ini, tetapi risiko bisa melonjak besok.
Yang membuat alarm ini penting adalah cakupannya yang lintas sektor. Begitu baterai diperebutkan bukan hanya oleh otomotif tetapi juga kelistrikan dan pusat data, tekanan pasok untuk industri EV berpotensi datang dari lebih banyak arah sekaligus.
Menurut pembacaan Kabarev, ini salah satu pesan paling penting untuk industri EV 2026: baterai kini terlalu strategis untuk dianggap sekadar komponen teknis. Ia sudah berubah menjadi instrumen daya saing, keamanan ekonomi, dan bahkan pengaruh geopolitik.
Karena itu, pemenang EV berikutnya mungkin bukan hanya yang punya mobil paling keren atau baterai paling murah, tetapi yang paling siap hidup di dunia yang lebih terfragmentasi dan lebih politis.
Sumber: IEA
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Belum ada artikel trending.