
Jakarta - PLN mencatat lonjakan penggunaan SPKLU selama periode siaga Ramadan dan Idulfitri 2026 hingga 4,14 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Frekuensi pengisian mencapai 303.234 transaksi pada 12 sampai 31 Maret 2026, naik dari 73.161 transaksi pada periode yang sama tahun 2025.
Bukan hanya jumlah transaksi yang melonjak. Konsumsi listrik di SPKLU juga naik menjadi 7,16 juta kWh dari 1,75 juta kWh tahun lalu. Artinya, pertumbuhan ini tidak lagi sekadar soal bertambahnya charger, tetapi mulai mencerminkan pemakaian riil yang makin kuat di lapangan.
Bagi pasar EV Indonesia, data seperti ini penting karena menggeser diskusi dari jumlah model dan insentif ke perilaku pengguna. Ketika masyarakat mulai memakai mobil listrik untuk mobilitas intensif seperti mudik, ekosistem sebenarnya sedang diuji dalam kondisi yang lebih berat.
Perbandingan tahun-ke-tahun juga membuat lonjakan ini lebih kredibel sebagai indikator pasar. Bagi operator infrastruktur, angka transaksi dan konsumsi listrik jauh lebih berguna daripada sekadar jumlah titik charger, karena ia memperlihatkan seberapa sering fasilitas itu benar-benar dipakai.
Menurut pembacaan Kabarev, lonjakan ini salah satu indikator paling sehat untuk pasar EV nasional. Bukan karena angka transaksinya besar semata, tetapi karena ia menandakan infrastruktur mulai dipakai sebagai layanan sehari-hari, bukan sekadar pajangan kesiapan.
Kalau tren ini bertahan di luar musim mudik, Indonesia akan punya argumen yang lebih kuat bahwa ekosistem EV-nya mulai beranjak dari fase promosi menuju fase utilitas.
Sumber: PT PLN (Persero)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Belum ada artikel trending.