
Copenhagen - Maersk pada 25 Maret 2026 mengeluarkan pembaruan khusus terkait gangguan operasi di sekitar Selat Hormuz. Perusahaan menyebut situasi yang berkembang memengaruhi navigasi dan operasi pelabuhan, sehingga pelanggan diberi skema penyesuaian waktu penahanan kontainer dan fleksibilitas logistik tambahan.
Bagi sektor EV, kabar seperti ini tidak boleh dibaca sebagai isu pelayaran semata. Industri kendaraan listrik sangat bergantung pada rantai pasok lintas negara, mulai dari baterai, sel, bahan aktif, modul elektronik, hingga komponen pendukung yang sering bergerak melalui koridor maritim yang sama.
Ketika perusahaan logistik sebesar Maersk harus menyesuaikan skema operasional karena situasi keamanan, artinya biaya ketidakpastian sedang naik. Efeknya bisa muncul dalam bentuk lead time yang lebih panjang, buffer stok lebih tebal, dan biaya modal kerja yang ikut membesar.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri otomotif sudah berkali-kali belajar bahwa chokepoint global bisa mengubah ritme pabrik dalam hitungan hari. Hormuz dan koridor sekitarnya kini kembali mengingatkan bahwa transisi EV juga punya sisi geopolitik yang keras.
Yang membuat isu ini relevan sekarang adalah timing-nya. Banyak produsen sedang mencoba menormalkan inventori dan margin setelah periode perang harga EV, sehingga gangguan logistik baru berpotensi langsung memukul biaya pada saat ruang manuver bisnis justru sedang sempit.
Menurut pembacaan Kabarev, perang modern tidak selalu langsung mematikan permintaan EV, tetapi hampir selalu membuat logistiknya lebih mahal dan lebih gugup. Dalam fase seperti ini, produsen yang punya multi-sourcing dan inventori disiplin akan lebih tahan guncangan.
Ini juga berarti narasi EV murah bisa sewaktu-waktu tertekan bukan karena teknologinya gagal, melainkan karena geopolitik kembali menambah biaya tak terlihat di sepanjang perjalanan barang.
Sumber: Maersk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Belum ada artikel trending.